Rabu, 30 Mei 2018

INFLASI

Pengertian Inflasi 

inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang

Penyebab terjadinya inflasi 
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu

  • Inflasi permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan di mana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga.
  • Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan.

Cost push inflation 
Inflasi ini disebabkan karena adanya dorongan kenaikan biaya produksi dalam jangka waktu tertentu secara terus menerus. Secara umum inflasi kenaikan biaya produksi ini disebabkan karena desakan biaya faktor produksi yang terus naik.

a. Model Keynesian
Model ini tampaknya lebih menitikberatkan penyebab terjadinya inflasi dari sisi permintaan (demand-pull inflation), dengan pemikiran dasar bahwa inflasi terjadi karena terjadi ekses permintaan. Hal ini dapat terjadi karena permintaan yang bertambah, sementara jumlah produksi (dan tentu saja kesempatan kerja) relatif tetap, atau berjalan lebih lambat, akibatnya sisi penawaran tidak mampu mengimbangi permintaan yang ada, sehingga garis permintaan bergeser ke atas dan harga naik.

b. Model Ekspektasi
Di dalam meneliti masalah inflasi, model ini menggunakan asumsi dasar bahwa masyarakat dan pelaku ekonomi lainnya memiliki perkiraan, harapan, dan dapat mengantisipasi terjadinya kenaikan harga dengan bertindak secara rasional. Masyarakat akan menggunakan seluruh informasi yang berkaitan dengan masalah kenaikan harga untuk bahan pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan ekonominya.

c. Model Monetaris
Seperti halnya model Keynesian, model Monetaris ini juga melihat penyebab inflasi dari sisi permintaan (demand-pull inflation), namun penyebab utama ekses permintaan adalah adanya uang beredar dalam arti sempit (M1). Seperti diketahui bahwa meningkatnya uang beredar akan meningkatkan permintaan agregat, yang apabila tidak diimbangi dengan tersedianya produksi yang memadai akan menimbulkan ekses permintaan yang berarti terjadi kenaikan harga.

d. Model Kepemimpinan-Gaji
Apabila model Keynesian dan Monetaris lebih melihat penyebab kenaikan harga dari sisi permintaan, maka model ini mempercayai bahwa penyebab kenaikan harga adalah terjadinya kenaikan gaji (tuntutan dari serikat buruh atau peraturan pemerintah) pada industri-industri yang utama, yang kemudian diikuti oleh industri-industri lainnya. Kenaikan gaji ini tentu saja akan berdampak pada meningkatnya ongkos produksi, bila industri tersebut tidak dapat melakukan efisiensi di pos biaya produksi lainnya, sehingga harga produk akan naik (cost-push inflation).

e. Model Strukturalis
Sepeti halnya model sebelumnya, model ini percaya bahwa penyebab inflasi adalah dari sisi penawaran (cost-push inflation) di samping tentu saja masalah struktural. Masalah struktural timbul terutama di negara yang ketergantungan pada produk makanan misalnya, masih tinggi (contoh Indonesia), di sisi lain pertumbuhan ekonomi (dan kesempatan kerja) di sektor lain cukup tinggi. Masalah terjadi apabila ada ketimpangan antara jumlah produksi sektor pertanian tidak dapat mengimbangi permintaan pangan dari sektor lainnya.sehingga menyebabkan harga pangan naik. Kenaikan kebutuhan pokok ini dapat mendorong tuntutan kenaikan upah yang tentu saja dapat berakibat naiknya biaya produksi (cost-push inflation). Selain itu, model ini juga melihat ketergantungan industri pada bahan-bahan baku dan penolong impor juga dapat memicu tingginya biaya produksi.

f. Model Neostrukturalis
Ada kaitannya dengan model Monetaris, model ini juga sepakat bahwa jumlah uang menjadi faktor penting penentu besaran inflasi. Hanya saja menurut model ini, pengaruh tersebut melalui proses sebagai berikut: Banyaknya uang yang tersedia untuk investasi akan menyebabkan harga uang tersebut, yaitu tingkat bunga menjadi rendah. Rendahnya tingkat bunga akan mendorong meningkatnya volume investasi, sehingga nilai produksi akan meningkat, dan tentu saja harga akan lebih rendah (inflasi rendah), begitu pula sebaliknya.

Selasa, 24 April 2018

Tugas Softskill

  • Teori Klasik 


Teori Irving Fisher 

        Melalui bukunya The Purchasing power of money terbit pada tahun 1911, Irving Fisher memperkenalkan pendekatan secara velositas. Pendekatan ini menjelaskan bahwa jumlah uang yang dibelanjakan sama dengan jumlah uang yang diterima. Dalam teori ini, fungsi uang hanyalah sebagai alat tukar.
     Fisher mengemukakan bahwa permintaan uang merupakan kepentingan yang sangat likuid untuk memenuhi motif transaksi. Dengan sederhana persamaan transaksi permintaan uang Fisher adalah :






Dari persamaan tersebut dapat diketahui hal-hal berikut :
  1. Apabila terdapat perubahan pada M atau V, maka akan mengakibatkan perubahan yang sebanding terhadap P.A
  2. Apabila terdapat perubahan terhadap T, maka akan terjadi perubahan yang sebaliknya terhadap P.



       Menurut Fisher dan kaum klasik diasumsikan selalu dalam keadaan full employment. Velocity ditentukan oleh faktor-faktor kelembagaan, mencakup faktor-faktor, misalnya tingkat permintaan uang akan sama dengan pendapatan nasional. Maka secara matematis dapat ditulis:

                             Md = kPY


Keterangan : 
k : adalah proporsi/bagian dari GNP yang diwujudkan dalam bentuk uang kas, jadi besarnya sama dengan I/VV
Y : adalah tingkat pendapatan nasional riil dan P adalah harga umum.



Teori Cambridge

        Teori ini dikemukakan oleh A. Marshall yg tidak menekankan pada perputaran uang (velocity) dalam suatu periode, melainkan pada bagian dari pendapatan (GNP) yang diwujudkan dalam bentuk uang kas (Nopirin, 1998: 73).  Teori ini dapat dituliskan sebagai berikut:

                               M = k PY


Keterangan :
      Dimana k adalah proporsi dari GNP yang diwujudkan dalam bentuk uang kas, jadi besarnya sama dengan 1/v. Marshall tidak menggunakan volume transaksi (T) sebagai alat pengukur jumlah output, tetapi menggunakan Y (untuk menunjukkan GNP riil). Jadi, T umumnya lebih besar daripada Y, sebab dalam pengertian T termasuk juga total transaksi barang akhir dan atau setengah jadi dihasilkan beberapa tahun yang lampau. Sedang dalam GNP hanyalah mencakup barang dan jasa akhir yang dihasilkan pada tahun tertentu saja, di dalamnya juga tidak termasuk barang setengah jadi.
     Persamaan Marshall tidak lagi merupakan persamaan pertukaran atau identitas (seperti pada persamaan Irving Fisher), tetapi telah merupakan persamaan teori kuantitas uang (dalam arti telah terkandung di dalamnya pengertian permintaan akan uang, yang kemudian sering disebut dengan persamaan cash-balance).


Teori Keynes

        General Theory of Employment Interest and Money, merupakan kritik terhadap kaum klasik yang tidak mampu menjelaskan masalah depresi yang terjadi, karena selalu mengasumsikan bahwa ekonomi selalu berada dalam keadaan yang full employment. Keynes mengungkapkan bahwa motif masyarakat memegang uang dibagi dalam tiga tujuan:

a. Permintaan uang untuk transaksi
     Keynes menyatakan bahwa permintaan uang kas untuk tujuan transaksi ini tergantung dari pendapatan. Makin tinggi tingkat pendapatan makin besar keinginan uang kas untuk transaksi. Seseorang atau masyarakat yang tingkat pendapatannya tinggi, biasanya melakukan transaksi yang lebih banyak dibandingkan dengan seseorang atau masyarakat yang pendapatannya rendah.

b. Permintaan uang untuk berjaga-jaga

         Menurut Keynes, antisipasi terhadap pengeluaran yang direncanakan dan yang tidak direncanakan menyebabkan seseorang akan memegang uang tunai lebih besar dari yang dibutuhkan untuk tujuan transaksi, yaitu untuk tujuan berjaga-jaga. Menurutnya jumlah uang yang dipegang untuk tujuan berjaga-jaga ini tergantung dari besarnya pendapatan, semakin tinggi pendapatan semakin tinggi pula uang yang dipegang untuk tujuan berjaga-jaga.
     Oleh karena permintaan uang dengan tujuan transaksi dan berjaga-jaga dipengaruhi oleh faktor yang sama, maka biasanya kedau variabel ini sering dijadikan satu menjadi permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga.

c. Permintaan uang untuk spekulasi

     Permintaan uang untuk tujuan spekulasi ini, menurut Keynes ditentukan oleh tingkat bunga. Makin tinggi tingkat bunga makin rendah keinginan masyarakat akan uang kas untuk motif spekulasi. Alasannya, pertama apabila tingkat bunga naik, berarti ongkos memegang uang kas makin besar, sehingga keinginan masyarakat akan uang kas semakin kecil. Kedua, hipotesa Keynes bahwa masyarakat menganggap akan adanya tingkat bunga normal berdasar pengalaman, terutama pengalaman tingkat bunga yang baru-baru terjadi (Nopirin, 1998: 119).



  • Theory Kuantitas Sederhana 

      Teori ini dikembangkan oleh ( David Hume 1752) inti pendapat Hume adalah bahwa perubahan harga barang akan sebanding lurus secara proportional dengan perubahan jumlah uang yang beredar (JUB )
Harga Barang barang P = F ( M) JUB Jumlah Uang Beredar

        Jika di asumsikan jumlah barang tetap, uang hanya digunakan untuk transaksi dan berjaga jaga, dan Velocity nya adalah tetap maka apabila JUB naik 25 % maka harga harga akan naik 25% pula Velocity = (rata rata perputaran setiap unit uang yang digunakan dalam transaksi jual beli)




  • Transaction Equation 

( PT = MV ) dikemukakan oleh ekonomi Irving Fisher, menurut nya Permintaan akan uang mengacu pada keseimbangan ( harus sama ) antara PT = MV

Pembayaran oleh pembeli (PT) merupakan = Penerimaan oleh penjual ( MV)
P = Price T = Kuantitas jumlah barang jasa dalam perekonomian
PT adalah jumlah perkalian antara harga dan Kuantitasnya ( setiap pembayaran oleh tumah tangga, pengusaha dan pemerintah )

         n
PT = sigma P1.t1= P1t1 + P2 t2 + .. Pn tn
         1 = 1

Total transaksinya ( MV) M = Jumlah uang diminta dan V = Velocity

      Persamaan diatas menyatakan bahwa permintaan akan uang akan naik akibat kebutuhan masyarakat untuk melakukan pertukaran/transaksi meningkat. (menyesuaikan dengan volume perdagangan yang sedang berlangsung dalam perekonomian )
      Seluruh pembayaran masyarakat (MV ) merupakan perkalian antara harga P dan kuantitas T atau valume perdagangan di masyarakat (PT )


  • Teori Kuantitas Modern (Friedman)
        Menurut pandangan Friedman permintaan uang ditentukan oleh faktor seperti berikut : tingkat harga, suku bunga obligasi, suku bunga “equities”, modal fisik dan kekayaan mengenai peranan harga dalam menentukan permintaan uang, Friedman berpendapat dikarenakan memegang uang adalah salah satu cara untuk menyimpan kekayaan. 
       Cara-cara yang lain adalah menyimpan uang dalam bentuk harta keuangan (financial asset) seperti obligasi, deposito dan saham, menyimpan dalam bentuk harta tetap (tanah dan rumah) dan kekayaan manusiawi (Boediono, 2005 : 63).
 Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang seperti diatas, teori permintaan yang didasarkan pada teori kuantitas modern yang dikembangkan oleh Friedman dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :

Md = f (P, r, rFC, Y)

Dimana Md adalah permintaan uang nominal, P adalah tingkat harga, r adalah tingkat suku bunga, rFC adalah tingkat pengembalian modal fisik dan Y adalah pendapatan dan kekayaan. Apabila dipertimbangkan pula pandangan Friedman mengenai permintaan uang riil, maka persamaan permintaan uang dinyatakan :

Md/P = f (ΔP, r, Y*)

Dimana Md/P adalah permintaan uang riil, ΔP adalah tingkat kenaikan harga, r adalah tingkat bunga dan Y* adalah nilai pendapatan dan kekayaan riil. 


  • Motif Transaksi dan Berjaga-jaga
1. Motif transaksi (transactional motive)
Orang memegang uang untuk memenuhi dan melancarkan transaksi-transaksi yang dilakukan dengan orang lain. Permintaan akan uang dari masyarakat untuk tujuan ini dipengaruhi oleh pendapatan nasional dan tingkat bunga.

2. Motif berjaga-jaga (precautionary motive)

      Orang biasanya berjaga-jaga karena tidak tahu pasti peristiwa apa yang akan menimpanya di masa depan. Orang akan lebih siap untuk menghadapi hal-hal yang tidak dapat diduga sebelumnya bila mempunyai uang. Misalnya, kecelakaan lalu lintas, kebakaran dan lain-lain.
      Untuk membiayai peristiwa yang tidak terduga tersebut, diperlukan tabungan. Selain itu, orang juga berpikir akan mendapatkan banyak keuntungan dari menyimpan uang atau tabungan, karena sifat uang itu likuid, yaitu mudah ditukarkan dengan barangbarang lain dan dapat dipergunakan setiap saat.


  • Motif spekulasi (speculative motive)

     Motif spekulasi bertujuan untuk memperoleh keuntungan dengan mengetahui secara baik situasi pasar yang akan terjadi di masa yang akan datang. Keuntungan itu akan diperoleh, jika yang diramalkan itu benar-benar terjadi. Banyaknya uang yang ditahan atau disimpan tergantung sekali pada tingkat bunga yang berlaku.







Rabu, 14 Maret 2018

EKONOMI MONETER #

1.    Pengertian Ekonomi Moneter

       Ekonomi Moneter adalah bagian dari ilmu ekonomi yang secara khusus mempelajari sifat, fungsi, dan peranan serta pengaruh uang terhadap aktivitas perekonomian pada sebuah negara.
      Sedangkan pengertian Ilmu Ekonomi Moneter itu adalah ilmu ekonomi yang mempelajari masalah-masalah yang ada kaitannya dengan uang, lembaga keuangan atau kredit ataupun permasalahan mekanisme moneter yang mempengaruhi proses produksi serta pembagian hasil pada masyarakat.

2.   Sejarah Uang

       Menurut sumber-sumber buku sejarah uang pertama kali diciptakan di negeri Cina lebih kurang 2700 Sebelum Masehi oleh Kaisar Huang.  Tetapi ada pula yang mencatat bahwa uang sebagai alat tukar yang juga digunakan orang Assyria, Phunisia, dan Mesir.
        Awalnya perkembangan uang dimulai dengan kegiatan tukar-menukar barang yang dikenal dengan istilah barter. Peradaban manusia pada saat itu belum maju, maka kegiatan barter dapat berjalan dengan lancar. Seiring dengan perkembangan kebutuhan manusia barter mulai ditinggalkan.
      Selanjutnya, muncullah beberapa benda seperti kerang, kulit binatang, garam, dan mutiara yang digunakan sebagai alat tukar. Alat tukar semacam ini dikenal dengan uang barang. Ternyata uang barang juga mempunyai kelemahan, karena kesulitan ukuran, berat, bentuk, jaminan yang tidak pasti dan sifat kedaerahannya.
         Selanjutnya, orang menggunakan emas dan perak sebagai alat pertukaran. Uang yang terbuat dari emas dan perak disebut dengan uang logam. Penggunaan uang logam dari emas dan perak dalam bentuk koin ini pertama kali dilakukan oleh Croesus di Yunani sekitar 560–546 Sebelum Masehi.


         Bersamaan dengan itu bahan pembuat uang logam mulai dikembangkan dengan bahan padat lainnya seperti tembikar, keramik, atau perunggu. Sejalan dengan perkembangan peradaban manusia dan kegiatan ekonomi, penggunaan uang logam masih mempunyai beberapa hambatan. Hal tersebut terkait dengan jumlah logam mulia yang sangat terbatas. Selain itu, dalam transaksi besar uang logam yang diperlukan sangat banyak dan sangat besar, serta tidak aman disimpan. Oleh karena itu, orang beralih menggunakan uang kertas.
          Mula-mula uang kertas beredar sebagai bukti kepemilikan emas dan perak sebagai perantara untuk melakukan transaksi. Bukti kepemilikan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya uang kertas. Lama-kelamaan, bukti kepemilikan ini digunakan sebagai alat transaksi kepercayaan masyarakat.
       Ternyata, pada perkembangan lebih lanjut uang kertas yang telah diterima secara umum oleh masyarakat tidak terlepas dari masalah keamanan bagi pemegangnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, dunia perbankan kemudian mengembangkan alat pembayaran yang disebut dengan cek. Cek adalah suatu perintah dari seseorang kepada bank untuk mentransfer uang ke rekening orang yang bersangkutan kepada orang lain.
          Selain menggunakan cek, transaksi yang lebih modern dapat dilakukan dengan pembayaran elektronik (e-payment). Hal ini terkait dengan penggunaan jaringan komputer dan internet. Bahkan pada perkembangan terakhir, transaksi seperti ini dapat dilakukan dengan telepon genggam yang dikenal dengan mobile banking. Selain dengan pembayaran elektronik, transaksi modern dapat dilakukan dengan uang elektronik (e-money) yaitu kartu kredit (credit card), store-value card, dan e-cash.Uang elektronik dapat menggantikan transaksi tunai.
     
3. Fungsi dan peranan uang


  1.     Fungsi dan peranan uang yaitu:

  • Fungsi Asli Sebagai alat tukar (medium of change). Fungsi ini memisahkan antara keputusan menjual. Adanya uang sebagai alat tukat dapat menghilangkan perlumya ada kesamaan keinginan sebelum terjadinya pertukaran. Kesamaan keinginan harus ada lebih dahulu untuk terjadinya tukar menukar barang dan barang (barter). Dengan uang orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang
  • Sebagai satuan hitung (unit of account)/sebagai satuan pengukur nilai. Artinya nilai suatu barang/jasa dapat diukur dan dibandingkan melalui uang. Misalnya di Indonesia, uang yang dinamakan Rupiah mempinyai fungsi sebagai dasar pengukuran. Uang dipakai untuk menunjukkan nilai berbagai macam barang dan jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa.
  • Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.
  • Sebagai penyimpan nilai (store of value). Dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.


      2.    Fungsi Turunan
  • Sebagai alat pembayaran
  • Untuk menentukan harga
  • Sebagai alat pembayaran hutang
  • Sebagai alat penimbun kekayaan

         Kekayaan seseorang dapar diukur dengan nilai uang atau nilai barang (harga barang dalam bentuk uang). Kekayaan dapat di timbun dalam bentuk uang contohnya; uang kas, surat-surat berharga, dan uang kontan di bank.
  • Sebagai alat pemindahan kekayaan (modal)
  • Sebagai alat untuk meningkatkan status social


4. Jenis - jenis uang
      Jenis uang yang beredar dimasyarakat dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu uang kartal, uang giral, dan uang kuasi.
  1. Uang Kartal. Uang kartal terdiri dari uang kertas dan uang logam. Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib diterima oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual beli sehari-hari.
  • Jenis Uang kartal Menurut Nilai yang terkandung didalam keuangan
 > Uang negara adalah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah, terbuat dari kertas yang memiliki ciri-ciri :
- Dikeluarkan oleh pemerintah
- Dijamin oleh undang undang
- Bertuliskan nama negara yang mengeluarkannya
- Ditanda tangani oleh menteri keuangan

 > Uang Bank adalah uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral berupa uang logam dan uang kertas, Ciri-cirinya sebagai berikut.
- Dikeluarkan oleh Bank Sentral
- Dijamin dengan emas atau valuta asing yang disimpan di Bank Sentral
- Bertuliskan nama bank sentral negara yang bersangkutan (di Indonesia : Bank Indonesia)
- Ditandatangani oleh gubernur bank sentral.

     2. Uang Giral. Uang giral tercipta akibat semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat akan adanya sebuah alat tukar yang lebih mudah, praktis dan aman. Bentuk uang giral dapat berupa cek, giro, atau telegrafic transfer.

      3. Uang Kuasi. Uang kuasi adalah surat-surat berharga yang dapat dijadikan sebagai alat pembayaran. Biasanya uang kuasi ini terdiri atas deposito berjangka dan tabungan serta rekening valuta asing milik swasta domestik.

5. Sejarah uang di Indonesia

    Setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum memiliki mata uang sendiri. Sekutu yang tergabung dalam Netherlands Indies Civil Administration (NICA) kembali menyerang Indonesia pada 29 September 1945. Mereka juga menerbitkan uang NICA yang memicu inflasi serta mengakibatkan kekacauan ekonomi di Indonesia.

   Pemerintah akhirnya mengambil langkah strategis demi mengurangi pengaruh NICA di Tanah Air. Pada 2 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan Maklumat Pemerintah Republik Indonesia yang menetapkan bahwa uang NICA tidak berlaku di wilayah RI. Pemerintah juga terus mengebut produksi mata uang sendiri yang dinamakan Oeang Republik Indonesia (ORI).


  Penduduk Indonesia mendapat pengumuman tentang Oeang Republik Indonesia dari pidato Wakil Presiden Mohammad Hatta yang disiarkan melalui RRI Yogyakarta pada 29 Oktober 1946. Pidato yang berlangsung sekitar pukul 20.00 menegaskan bahwa ORI mulai berlaku pukul 00.00 tengah malam atau beberapa jam setelah pidatonya.
  ORI emisi 1 terbit dalam delapan seri uang kertas yaitu satu sen, lima sen, sepuluh sen, setengah rupiah, satu rupiah, lima rupiah, sepuluh rupiah, dan seratus rupiah.

   ORI ini juga punya sisi depan dan belakang yang bergambar ciri khas Indonesia, yaitu keris yang terhunus dan teks Undang-Undang Dasar 1945. Pada tiap lembar yang beredar, ORI ditandatangani oleh Menteri Keuangan yang menjabat dalam kurun waktu 26 September 1945 – 14 November 1945, A. A. Maramis.

  Ada beberapa ragam seri ORI lain yang diproduksi yakni ORI II, III, IV dan ORI Baru. ORI II diterbitkan di Yogyakarta pada 1 Januari 1947. Sedangkan ORI III diterbitkan di kota yang sama pada 26 Juli 1947. Sementara ORI Baru terbit pada peringatan Hari Kemerdekaan tahun 1949.
  •  Mata uang Republik Indonesia Serikat

Mulai 27 Maret 1950 telah dilakukan penukaran ORI dan ORIDA dengan uang baru yang diterbitkan dan diedarkan oleh De Javasche Bank yaitu Uang Republik Indonesia Serikat (RIS).

      Sejalan dengan masa Pemerintah RIS yang berlangsung singkat, masa edar uang kertas RIS juga tidak lama, yaitu hingga 17 Agustus 1950 ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk kembali

  • Proses perubahan mata uang menjadi Rupiah


     Pada Desember 1951, De Javasche Bank dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral. Sesuai dengan tanggal berlakunya Undang-Undang Pokok Bank Indonesia tahun 1953, maka tanggal 1 Juli 1953 diperingati sebagai hari lahir Bank Indonesia di mana Bank Indonesia menggantikan De Javasche Bank dan bertindak sebagai bank sentral.
     Di saat yang sama, Bank Indonesia juga merilis uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran. Terdapat dua macam uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah Republik Indonesia, yaitu uang yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia (Kementerian Keuangan) dan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Pemerintah RI menerbitkan uang kertas dan logam pecahan di bawah Rp 5, sedangkan Bank Indonesia menerbitkan uang kertas dalam pecahan Rp 5 ke atas.
     Di tahun 1952 hingga 1953, Bank Indonesia mulai merilis uang kertas baru, mulai dari 1 Rupiah hingga 100 Rupiah. Barulah pada masa Orde Baru, Bank Indonesia diberi wewenang untuk mencetak dan menerbitkan uang, baik dalam bentuk koin ataupun kertas, serta mengatur peredarannya.
Uang inilah yang terus berkembang menjadi alat pembayaran yang diterima hingga kini. Asal nama Rupiah sendiri berasal dari rupee (India) dan rupia (Mongolia) yang berarti perak.

  • Uang rupiah baru emisi 2016


     Bank Indonesia pada Desember 2016 mengeluarkan  11 uang rupiah Emisi 2016 dengan gambar pahlawan baru. Peluncuran uang rupiah baru ini dilakukan‎ langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. Uang rupiah baru yang diluncurkan tersebut terdiri atas tujuh pecahan uang rupiah kertas dan empat pecahan uang rupiah logam. Uang rupiah baru ini akan menampilkan 12 gambar pahlawan nasional.
        Uang rupiah kertas yang diterbitkan terdiri atas nilai nominal Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000. Sedangkan uang rupiah logam terdiri atas pecahan Rp 1.000, Rp 500, Rp 200, dan Rp 100.
        Sementara 12 gambar pahlawan yang menjadi latar belakangnya, antara lain Ir. Soekarno, Dr (HC) Drs. Mohammad Hatta, Dr. G.S.S.J. Ratulangi, Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, Frans Kaisiepo, Dr. K.H. Idham Chalid, Mohammad Hoesni Thamrin, Tjut Meutiah, I Gusti Ketut Pudja, Letnan Jenderal TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang, Dr. Tjiptomangunkusumo dan Prof.Dr.Ir. Herman Johanes.
          Uang rupiah tahun emisi 2016 ini memiliki desain yang simpel dengan perpaduan warna yang yang lebih terang dari cetakan sebelumnya. Pecahan yang baru ini juga memiliki tingkat keamanan yang terbilang cukup tinggi di dunia karena sudah menerapkan 3 level pengamanan. Uang kertas Rupiah yang diterbitkan BI ini diklaim menjadi salah satu mata uang yang memiliki tingkat pengamanan tertinggi di dunia.