- Teori Klasik
Teori Irving Fisher
Melalui bukunya The Purchasing power of money terbit pada tahun 1911, Irving Fisher memperkenalkan pendekatan secara velositas. Pendekatan ini menjelaskan bahwa jumlah uang yang dibelanjakan sama dengan jumlah uang yang diterima. Dalam teori ini, fungsi uang hanyalah sebagai alat tukar.
Fisher mengemukakan bahwa permintaan uang merupakan kepentingan yang sangat likuid untuk memenuhi motif transaksi. Dengan sederhana persamaan transaksi permintaan uang Fisher adalah :
Dari persamaan tersebut dapat diketahui hal-hal berikut :
- Apabila terdapat perubahan pada M atau V, maka akan mengakibatkan perubahan yang sebanding terhadap P.A
- Apabila terdapat perubahan terhadap T, maka akan terjadi perubahan yang sebaliknya terhadap P.
Menurut Fisher dan kaum klasik diasumsikan selalu dalam keadaan full employment. Velocity ditentukan oleh faktor-faktor kelembagaan, mencakup faktor-faktor, misalnya tingkat permintaan uang akan sama dengan pendapatan nasional. Maka secara matematis dapat ditulis:
Md = kPY
Keterangan :
k : adalah proporsi/bagian dari GNP yang diwujudkan dalam bentuk uang kas, jadi besarnya sama dengan I/VV
Y : adalah tingkat pendapatan nasional riil dan P adalah harga umum.
Teori Cambridge
Teori ini dikemukakan oleh A. Marshall yg tidak menekankan pada perputaran uang (velocity) dalam suatu periode, melainkan pada bagian dari pendapatan (GNP) yang diwujudkan dalam bentuk uang kas (Nopirin, 1998: 73). Teori ini dapat dituliskan sebagai berikut:
M = k PY
Keterangan :
Dimana k adalah proporsi dari GNP yang diwujudkan dalam bentuk uang kas, jadi besarnya sama dengan 1/v. Marshall tidak menggunakan volume transaksi (T) sebagai alat pengukur jumlah output, tetapi menggunakan Y (untuk menunjukkan GNP riil). Jadi, T umumnya lebih besar daripada Y, sebab dalam pengertian T termasuk juga total transaksi barang akhir dan atau setengah jadi dihasilkan beberapa tahun yang lampau. Sedang dalam GNP hanyalah mencakup barang dan jasa akhir yang dihasilkan pada tahun tertentu saja, di dalamnya juga tidak termasuk barang setengah jadi.
Persamaan Marshall tidak lagi merupakan persamaan pertukaran atau identitas (seperti pada persamaan Irving Fisher), tetapi telah merupakan persamaan teori kuantitas uang (dalam arti telah terkandung di dalamnya pengertian permintaan akan uang, yang kemudian sering disebut dengan persamaan cash-balance).
Teori Keynes
General Theory of Employment Interest and Money, merupakan kritik terhadap kaum klasik yang tidak mampu menjelaskan masalah depresi yang terjadi, karena selalu mengasumsikan bahwa ekonomi selalu berada dalam keadaan yang full employment. Keynes mengungkapkan bahwa motif masyarakat memegang uang dibagi dalam tiga tujuan:
a. Permintaan uang untuk transaksi
Keynes menyatakan bahwa permintaan uang kas untuk tujuan transaksi ini tergantung dari pendapatan. Makin tinggi tingkat pendapatan makin besar keinginan uang kas untuk transaksi. Seseorang atau masyarakat yang tingkat pendapatannya tinggi, biasanya melakukan transaksi yang lebih banyak dibandingkan dengan seseorang atau masyarakat yang pendapatannya rendah.
b. Permintaan uang untuk berjaga-jaga
Menurut Keynes, antisipasi terhadap pengeluaran yang direncanakan dan yang tidak direncanakan menyebabkan seseorang akan memegang uang tunai lebih besar dari yang dibutuhkan untuk tujuan transaksi, yaitu untuk tujuan berjaga-jaga. Menurutnya jumlah uang yang dipegang untuk tujuan berjaga-jaga ini tergantung dari besarnya pendapatan, semakin tinggi pendapatan semakin tinggi pula uang yang dipegang untuk tujuan berjaga-jaga.
Oleh karena permintaan uang dengan tujuan transaksi dan berjaga-jaga dipengaruhi oleh faktor yang sama, maka biasanya kedau variabel ini sering dijadikan satu menjadi permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga.
c. Permintaan uang untuk spekulasi
Permintaan uang untuk tujuan spekulasi ini, menurut Keynes ditentukan oleh tingkat bunga. Makin tinggi tingkat bunga makin rendah keinginan masyarakat akan uang kas untuk motif spekulasi. Alasannya, pertama apabila tingkat bunga naik, berarti ongkos memegang uang kas makin besar, sehingga keinginan masyarakat akan uang kas semakin kecil. Kedua, hipotesa Keynes bahwa masyarakat menganggap akan adanya tingkat bunga normal berdasar pengalaman, terutama pengalaman tingkat bunga yang baru-baru terjadi (Nopirin, 1998: 119).
- Theory Kuantitas Sederhana
Teori ini dikembangkan oleh ( David Hume 1752) inti pendapat Hume adalah bahwa perubahan harga barang akan sebanding lurus secara proportional dengan perubahan jumlah uang yang beredar (JUB )
Harga Barang barang P = F ( M) JUB Jumlah Uang Beredar
Jika di asumsikan jumlah barang tetap, uang hanya digunakan untuk transaksi dan berjaga jaga, dan Velocity nya adalah tetap maka apabila JUB naik 25 % maka harga harga akan naik 25% pula Velocity = (rata rata perputaran setiap unit uang yang digunakan dalam transaksi jual beli)
- Transaction Equation
( PT = MV ) dikemukakan oleh ekonomi Irving Fisher, menurut nya Permintaan akan uang mengacu pada keseimbangan ( harus sama ) antara PT = MV
Pembayaran oleh pembeli (PT) merupakan = Penerimaan oleh penjual ( MV)
P = Price T = Kuantitas jumlah barang jasa dalam perekonomian
PT adalah jumlah perkalian antara harga dan Kuantitasnya ( setiap pembayaran oleh tumah tangga, pengusaha dan pemerintah )
n
PT = sigma P1.t1= P1t1 + P2 t2 + .. Pn tn
1 = 1
Total transaksinya ( MV) M = Jumlah uang diminta dan V = Velocity
Persamaan diatas menyatakan bahwa permintaan akan uang akan naik akibat kebutuhan masyarakat untuk melakukan pertukaran/transaksi meningkat. (menyesuaikan dengan volume perdagangan yang sedang berlangsung dalam perekonomian )
Seluruh pembayaran masyarakat (MV ) merupakan perkalian antara harga P dan kuantitas T atau valume perdagangan di masyarakat (PT )
- Teori Kuantitas Modern (Friedman)
Menurut pandangan Friedman permintaan uang ditentukan oleh faktor seperti berikut : tingkat harga, suku bunga obligasi, suku bunga “equities”, modal fisik dan kekayaan mengenai peranan harga dalam menentukan permintaan uang, Friedman berpendapat dikarenakan memegang uang adalah salah satu cara untuk menyimpan kekayaan.
Cara-cara yang lain adalah menyimpan uang dalam bentuk harta keuangan (financial asset) seperti obligasi, deposito dan saham, menyimpan dalam bentuk harta tetap (tanah dan rumah) dan kekayaan manusiawi (Boediono, 2005 : 63).
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang seperti diatas, teori permintaan yang didasarkan pada teori kuantitas modern yang dikembangkan oleh Friedman dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :
Md = f (P, r, rFC, Y)
Dimana Md adalah permintaan uang nominal, P adalah tingkat harga, r adalah tingkat suku bunga, rFC adalah tingkat pengembalian modal fisik dan Y adalah pendapatan dan kekayaan. Apabila dipertimbangkan pula pandangan Friedman mengenai permintaan uang riil, maka persamaan permintaan uang dinyatakan :
Md/P = f (ΔP, r, Y*)
Dimana Md/P adalah permintaan uang riil, ΔP adalah tingkat kenaikan harga, r adalah tingkat bunga dan Y* adalah nilai pendapatan dan kekayaan riil.
- Motif Transaksi dan Berjaga-jaga
1. Motif transaksi (transactional motive)
Orang memegang uang untuk memenuhi dan melancarkan transaksi-transaksi yang dilakukan dengan orang lain. Permintaan akan uang dari masyarakat untuk tujuan ini dipengaruhi oleh pendapatan nasional dan tingkat bunga.
2. Motif berjaga-jaga (precautionary motive)
Orang biasanya berjaga-jaga karena tidak tahu pasti peristiwa apa yang akan menimpanya di masa depan. Orang akan lebih siap untuk menghadapi hal-hal yang tidak dapat diduga sebelumnya bila mempunyai uang. Misalnya, kecelakaan lalu lintas, kebakaran dan lain-lain.
Untuk membiayai peristiwa yang tidak terduga tersebut, diperlukan tabungan. Selain itu, orang juga berpikir akan mendapatkan banyak keuntungan dari menyimpan uang atau tabungan, karena sifat uang itu likuid, yaitu mudah ditukarkan dengan barangbarang lain dan dapat dipergunakan setiap saat.
- Motif spekulasi (speculative motive)
Motif spekulasi bertujuan untuk memperoleh keuntungan dengan mengetahui secara baik situasi pasar yang akan terjadi di masa yang akan datang. Keuntungan itu akan diperoleh, jika yang diramalkan itu benar-benar terjadi. Banyaknya uang yang ditahan atau disimpan tergantung sekali pada tingkat bunga yang berlaku.
